Sistem Informasi Psikologi (Prospek Pribadi)

Awalnya saya tidak terpikir untuk mengambil jurusan psikologi ketika ingin memasuki bangku perkuliahan, namun ketika saya sedang mendaftarkan diri di universitas seorang teman saya menyarankan saya untuk menggambil jurusan ini. saya sempat kesal karena banyak orang berpersepsi bahwa anak psikologi bisa membaca pikiran seseorang, tapi itu salah karena kami kan bukan ahli nujum. Lulusan psikologi bisa banyak menempati posisi baik diperusahaan, sekolah, rumah sakit, biro psikologi, atau instansi pekerjaan lainnya. Secara pribadi apabila saya ditanya mengenai pekerjaan setelah saya lulus kuliah nanti saya sangat berkeinginan untuk menjadi psikolog anak, meskipun masih panjang jalan saya untuk mendapatkan profesi tersebut karna harus menempuh jenjang s2 untuk menjadi seorang psikolog. Profesi psikolog banyak macamnya ada psikolog klinis, psikolog perilaku, psikolog pendidikan, psikolog kesehatan, psikolog forensik, psikolog sosial, dan banyak lagi namun saya lebih memilih menjadi psikolog anak. Menurut saya psikolog anak memiliki peranan yang sangat penting karena seperti yang kita tau bahwa anak merupakan calon penerus masa depan, penerus masa depan kita haruslah yang sehat baik jiwa dan raganya. Apabila seorang anak mengalami tekanan, trauma, kelainan tingkah laku dan sebagainya dibiarkan saja tanpa mendapatkan treatment yang benar maka akan mempengaruhi tumbuh kembang jiwanya. Tugas psikolog anak tidak hanya diperlukan bagi anak anak yang mengalami hambatan atau gangguan, psikolog anak juga berperan untuk anak-anak yang sehat untuk menanamkan jiwa yang kuat supaya terlatih untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang mungkin dialaminya dimasa depan, dengan seperti itu mereka akan mampu untuk mengembangkan kehidupan bangsa agar menjadi lebih baik lagi.

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA

Dalam tulisan saya sebelumya mengenai Sistem Informasi, telah dijabarkan mengenai pengertian dari sistem informasi serta penerapan Sistem Informasi di bidang kerja dalam kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai penerapan Sistem Informasi dalam bidang psikologi.

Sistem Informasi sangat banyak sekali digunakan dalam bidang Psikologi, contohnya saja dalam bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Kini perusahaan banyak menggunakan software mengenai alat tes psikologi untuk mempersingkat waktu seleksi calon karyawan secara efisien. Selain itu Sistem Informasi dalam bidang PIO dipergunakan untuk pelaksanaan analisis jabatan karyawan, sehingga perusahaan dapat melakukan penempatan jabatan/posisi karyawan sesuai dengan spesifikasi kemampuan karyawannya masing-masing.

Selain dalam bidang PIO, Sistem Informasi juga dipergunakan dalam bidang Klinis. Hal ini ditandai dengan adanya konseling online yang dirancang untuk mempermudah klien dalam melakukan konseling yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja tanpa harus mempersoalkan jarak dan waktu untuk mengunjungi konselornya. Tes intelegensi maupun tes inventori dalam psikologi juga memerlukan Sistem Informasi dalam penerapannya, baik dalam tes IQ yang dilakukan secara langsung maupun lewat media online (seperti test Rorschach pada http://theinkblot.com ).

Selain itu Sistem informasi juga diperlukan dalam perhitungan analisis data psikologi. Salah satunya adalah SPSS (Statistical Pacages for the Social Science) program ini dirancang untuk membantu dalam memproses data-data statistik secara tepat dan cepat, serta menghasilkan berbagai output yang dikehendaki oleh para pengambil keputusan.

Ana kurniawati. (2014). ana.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/33562/SISTEM%2BINFORMASI.ppt+&cd=2&hl=en&ct=clnk. Diakses pada 22 Oktober 2015, 16:73 WIB

Rahman,u., & Burjulitus, L.(2010). Perancangan system informasi manajemen penerimaan karyawan outsourching di PT. infomedia solusi humanika. Jurnal system informasi. Vol.28(3), 27-32

Sistem Informasi Psikologi dan Penerapannya

Dalam tulisan saya sebelumya mengenai Sistem Informasi, telah dijabarkan mengenai pengertian dari sistem informasi serta penerapan Sistem Informasi di bidang kerja dalam kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai penerapan Sistem Informasi dalam bidang psikologi.

Sistem Informasi sangat banyak sekali digunakan dalam bidang Psikologi, contohnya saja dalam bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Kini perusahaan banyak menggunakan software mengenai alat tes psikologi untuk mempersingkat waktu seleksi calon karyawan secara efisien. Selain itu Sistem Informasi dalam bidang PIO dipergunakan untuk pelaksanaan analisis jabatan karyawan, sehingga perusahaan dapat melakukan penempatan jabatan/posisi karyawan sesuai dengan spesifikasi kemampuan karyawannya masing-masing.

Selain dalam bidang PIO, Sistem Informasi juga dipergunakan dalam bidang Klinis. Hal ini ditandai dengan adanya konseling online yang dirancang untuk mempermudah klien dalam melakukan konseling yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja tanpa harus mempersoalkan jarak dan waktu untuk mengunjungi konselornya. Tes intelegensi maupun tes inventori dalam psikologi juga memerlukan Sistem Informasi dalam penerapannya, baik dalam tes IQ yang dilakukan secara langsung maupun lewat media online (seperti test Rorschach pada http://theinkblot.com ).

Selain itu Sistem informasi juga diperlukan dalam perhitungan analisis data psikologi. Salah satunya adalah SPSS (Statistical Pacages for the Social Science) program ini dirancang untuk membantu dalam memproses data-data statistik secara tepat dan cepat, serta menghasilkan berbagai output yang dikehendaki oleh para pengambil keputusan.

Ana kurniawati. (2014). ana.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/33562/SISTEM%2BINFORMASI.ppt+&cd=2&hl=en&ct=clnk. Diakses pada 22 Oktober 2015, 16:73 WIB

Rahman,u., & Burjulitus, L.(2010). Perancangan system informasi manajemen penerimaan karyawan outsourching di PT. infomedia solusi humanika. Jurnal system informasi. Vol.28(3), 27-32

DEFINISI SISTEM INFORMASI DAN PENERAPANNYA

Sistem informasi adalah kumpulan komponen dimana masing-masing komponen memiliki fungsi yang saling berinteraksi dan saling tergantung serta memiliki satu kesatuan yang utuh untuk bekerja mencapai tujuan tertentu (Nuraida, 2008). Menurut Komaruddin (dalam Nuraida,2008) sistem informasi merupakan seperangkat prosedur yang terorganisasi dengan sistematik yang jika dilaksanakan akan menyediakan informasi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan keputusan.

Untuk menciptakan suatu system informasi harus dipertimbangkan beberapa hal,

Baridwan (dalam Hidayat, 2012) menyebutkan :

  • Informasi yang dihasilkan harus tepat waktu, dalam bentuk yang mudah dipahami, relevan dengan keputusan yang diambil dan dapat dipercaya. Artinya informsinya diteliti dan tidak mengandung kesalahan.
  • Biaya untuk melaksanakan sistem harus dibuat seminimal mungkin tanpa mengorbankan manfaat sistem dalam menghasilkan informasi, dan dalam mengawasi harta milik perusahaan. Berbagai macam unsur biaya yang perlu direncanakan adalah meliputi mesin yang dipakai, laporan yang dihasilkan, karyawan yang melaksanakan pekerjaan dan lain-lain.
  • Sistem Informasi yang dihasilkan harus fleksibel, dalam arti informasi tersebut harus mampu menampung perubahan dalam kebutuhan akan informasi tanpa perlu mengadakan perubahan yang besar. Fleksibel ini bukan berarti tidak terbatas, karena bila perusahaan mengalami perubahan yang sangat besar maka bagaimanapun juga akan diperlukan beberapa penyesuaian dalam sistem, sedapat mungkin penyesuaian-penyesuaian seperti ini tidak merupakan perombakan total dalam sistem yang berjalan.
  • Sistem harus sederhana, dalam arti mudah dipahami oleh pelaksanaan dan mudah dilaksanakan tanpa menimbulkan kesulitan-kesulitan yang tidak perlu.

Sistem Informasi dapat diterapkan dalam bermacam-macam bidang contohnya saja Sistem Informasi akuntansi. Sistem informasi akuntansi adalah suatu sumber daya manusia dan modal dalam suatu organisasi, yang bertugas untuk menyiapkan informasi keuangan dan juga informasi yang diperoleh dari kegiatan pengumpulan data transaksi. Peran pentingnya sistem informasi akuntansi dalam hal pembuatan keputusan manajemen menurut Cushing (dalam Hidayat, 2012) adalah sebagai berikut :

  1. Informasi akuntansi sering memberikan dorongan kepada peengambil keputusan manajemen dengan menunjukkan adanya suatu yang mendukung tindakan manajemen.
  2. Informasi akuntansi sering memberikan suatu dasar untuk mengadakan pilihan antara berbagai alternatif tindakan yang mungkin dilakukan.

Daftar Pustaka:

Nuraida, I. (2008). Manajemen administrasi Perkantoran. Yogyakarta: Kanisius.

Hidayat. A., Sugiarto. (2012). Penerapan system informasi akuntansi berbasis computer pada kopinspek PT. Sucofindo cabang medan. Jurnal wira ekonomi mikroskil. Vol.2 (01)

Psikoterapi 2 (11512643)

1.TERAPI KELOMPOK ITU APA?

Konseling kelompok didefinisikan sebagai suatu dinamika, proses antarpribadi yang memusatkan pada pikiran sadar, perasaan dan tingkah laku (Corey,1996; Gazda,Duncan, &Meadow, 1967). Terapi kelompok juga didefinisikan sebagai bentuk psikoterapi di mana satu atau lebih terapis mengobati sekelompok kecil klien bersama-sama sebagai sebuah kelompok. Istilah ini secara sah dapat merujuk kepada segala bentuk psikoterapi ketika disampaikan dalam format kelompok. Terdapat beberapa tokoh yang mendefinisikan mengenai pengertian terapi kelompok.
1. Terapi kelompok adalah metoda pekerjaan sosial dengan mana pengalaman-pengalaman kelompok digunakan oleh pekerja sosial sebagai medium praktik utama yang bertujuan untuk mempengaruhi keberfungsial sosial, pertumbuhan atau perubahan anggota-anggota kelompok (Margaret E. Hartford).
2. Terapi kelompok adalahsuatu pelayanan kepada kelompok yang tujuan utamanya untuk membantu anggota-anggota kelompok memperbaiki penyesuaian sosial mereka (social adjusment), dan tujuan keduanya untuk membantu kelompok mencapai tujuan-tujuan yang disepakati oleh masyarakat (National Association of Work/NASW).
3. Terapi kelompok adalah suatu metode khusus yang memberikan kesempatan-kesempatan kepada individu-individu dan kelompok-kelompok untuk tumbuh dalam setting-setting fungsional pekerjaan Sosial, rekreasi dan pendidikan (Harleigh B. Tecker).
4. Terapi kelompok memungkinkan beberapa jenis kelompok berfungsi sedemikian rupa, sehingga interaksi kelompok dan kegiatan-kegiatan program memberikan kontribusi pada pertumbuhan individu-individu dalam pencapaian tujuan-tujuan sosial yang diingikan (American Association of Group Worker & Grace L. Coyle).

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa terapi kelomok adalah metode khusus yang memberikan kesempatan-kesempatan kepada individu-individu dan kelompok-kelompok untuk membantu anggota-anggota kelompok memperbaiki penyesuaian sosial mereka (social adjusment) yang bertujuan untuk mempengaruhi keberfungsial sosial, pertumbuhan atau perubahan anggota-anggota kelompok.

2. LALU BAGAIMANAKAH CARA MELAKUKAN TERAPI KELOMPOK TERSEBUT?

Menurut Zastrow (dalam suharto 2007)mendiskusikan tahap-tahap dalam melakuka terapi kelompok seperti berikut.
1. Tahap intake
Tahap ini ditandai dengan adanya pengakuan mengenai masalah spesifik yang mungkin tepat dipecahkan melalui pendekatan kelompok. Kesadaran ini mungkin dihaslkan dari pengungkapan masalah oleh klien sendiri atau berdasarkan penelaahan situasi oleh terapis. Tahap ini disebut juga kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini dirumuskannya persetujuan dan komitmen antara mereka unruk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku.
2. Tahap assessmen dan perencanaan intervensi
Pemimpin kelompok bersama dengan anggoota kelompok mengidentifikasi permasalah, tujuan-tujuan kelompok serta merancang tindakan pemecahan masalah. Kelompok berjalan secara dinamis dan perlu penyesuaian tujuan-tujuan.
3. Tahap penyeleksian anggota
Penyeleksian anggota harus dilakukan pada orang-orang yang paling mungkon mendapatkan manfaat dari struktur kelompok dan keterlibatannya dalam kelompok. Komposisi kelompok (usia, jenis kelamin, status sosial) adalah faktor yang dipertimbangkan dalam tahap ini. Selain itu, ketertarikan individu terhadap kelompok jug diperhatiakn karena anggota yang memiliki perasaan positif akan terlibat dalam berbagai kegiatan kelompok secara teratur dan konsisten.
4. Tahap pengembangan kelompok
Norma-norma, harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan akan muncul pada tahap ini dan akan mempengaruhi serta dipengaruhi oleh aktivitas dan relasi yang berkembang dalam kelompok. Terapis berperan aktif mendorong kelompok mencapai tujuan.
5. Tahap evaluasi dan terminasi
Evaluasi merupakan proses yang berkelanjutan, karena evaluasi tidak selalu dilakukan pada tahap akhir suaru kegiatan. Evaluasi diartikan sebagai pengidentifikasian atau pengukuran terhadap proses dan hasil kegiatan kelompok secara menyeluruh, sedangkan pemantauan proses keberhasilan kelompok yang dilakukan pada setiap fase dapat disebut sebagai monitoring.
Berdasarkan hasil evaluasi dan monitoring tersebut dilakukan terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasarkan pertimbangan dan alasan sebagai berikut:
1.) Tujuan individu maupun kelompok telah tercapai.
2.) Waktu yang ditetapkan (duration of group) telah beakhir.
3.) kelompok gagal mencapai tujuan tujuannya.
4.) keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggotakelompok.

3. KEMUDIAN MANFAAT APA YANG DAPAT DIPEROLEH DARI TERAPI KELOMPOK?

Terapi kelompok memberikan beberapa manfaat kepada anggotanya. Pertama, peserta terai kelompok memiliki kesempatan untuk membicarakan tentang persoalan yang mereka miliki kepada peserta yang lain kemudian mendengarkan komentar dari peserta lain terhadap masalah yang sedang mereka alami. Kedua terapi kelompok juga dapat memberikan gagasan dan sugesti dari anggota lainnya tentang bagaimana carayang lebih baik untuk mengatasi persoalan mereka. Psikologi kelompok juga memungkinkan anggota kelompok untuk menambah pengertian dan penerimaan tetang nilai, tujuan dan untuk belajar tentang sikap dan tingkah laku tertentu. Terapi kelompok membantu individu untuk menggunakan umber inner untuk menghadapi kejadian-kejadian dalam hidup dengan lebih efektif dan mendapatkan kesadaran yang lebih besar, pengertian dan penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain.

4. KASUS-KASUS APA YANG DAPAT DISELESAIKAN DALAM TERAPI KELOMPOK?

Dalam dunia perkembangan anak terapi dipergunakan sebagai kasus-kasus yang berhubungan tentang tugas perkembangan masa kanak-kanak sehingga membentuk anak-anak yang sehat dan terampil membuat keputusan bagi mereka, memperkuat mereka menghadapi masalah, dan belajar strategi memecahkan masalah baru. Sedangkan pada remaja terapi kelompok juga dipergunakan untuk mengatasi kenakalan-kenakalan remaja seperti, malas belajar, tawuran, perilaku agresif antar anggota kelompok, membolos, dan lain sebagainya.
Di dunia industri, terapi kelompok sangat sering digunakan sebagai metode untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami para pegawai seperti kecanduan alkohol, obat-obatan terlarang , rokok, kemalasan bekerja, konflik antar pegawai.

5. CONTOH KASUS YANG DISELESAIKAN DALAM TERAPI KELOMPOK.

Dalam percobaan yang dilakukan oleh Baskoro (2013), terdapat 6 remaja berusia 14-16 tahun yang menunjukan perilaku agresif baik secara fisik maupun verbal yang terdiri dari 3 anak laki-laki dan 3 anak perempuan yang akan diberi terapi kelompok. Terapi kelompok akan dilakukan sebanyak 7 sesi (80 menit setiap sesi), dan terdapat dua sesi dalam satu minggu. Hasil dari terapi yang telah dilaksanakan dalam 7 sesi didapatkan bahwa terapi kelompok menurunkan perilaku agresif pada remaja dalam prosesnya karena beberapa hal sebagai berikut:
a. Peserta terapi kelompok membuat solusi untuk menghadapi suatu situasi permasalahan dan melaksanakannya dalam waktu tuhuj sesi.
b. Peserta dapat mengetahui mengenai respon orang lain ketika mereka mencoba perilaku yang lebih baik,
c. partisipan dapat memantau keadaan dirin¬ya sendiri, sehingga lebih dapat mengendal-ikan diri ketika menghadapi suatu permasala¬han,
d. partisipan memiliki keyakinan bahwa mereka dapat mempertahankan perilaku solu¬si yang telah mereka buat ketika menghadapi situasi permasalahan.

Sumber:
Baskoro, D. S. B.(2013). Model solution focused brief group therapy untuk perilaku agresif remaja. Jurnal sains dan praktik psikologi. Vol 1 (1), 14-25.
Djiwandono, S. E. W. (2005). Konseling dan Terapi dengan Anak dan Orang Tua.Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Mashudi, Farid.(2013).Psikologi Konseling.Jogjakarta:IRCiSoD
Suharto, E. (2007). Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat Tanggungjawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility). Bandung: Refika Aditama.

Tulisan 2 : PSIKOTERAPI (11512643)

1.TERAPI KELOMPOK ITU APA?

Konseling kelompok didefinisikan sebagai suatu dinamika, proses antarpribadi yang memusatkan pada pikiran sadar, perasaan dan tingkah laku (Corey,1996; Gazda,Duncan, &Meadow, 1967). Terapi kelompok juga didefinisikan sebagai bentuk psikoterapi di mana satu atau lebih terapis mengobati sekelompok kecil klien bersama-sama sebagai sebuah kelompok. Istilah ini secara sah dapat merujuk kepada segala bentuk psikoterapi ketika disampaikan dalam format kelompok. Terdapat beberapa tokoh yang mendefinisikan mengenai pengertian terapi kelompok.
1. Terapi kelompok adalah metoda pekerjaan sosial dengan mana pengalaman-pengalaman kelompok digunakan oleh pekerja sosial sebagai medium praktik utama yang bertujuan untuk mempengaruhi keberfungsial sosial, pertumbuhan atau perubahan anggota-anggota kelompok (Margaret E. Hartford).
2. Terapi kelompok adalahsuatu pelayanan kepada kelompok yang tujuan utamanya untuk membantu anggota-anggota kelompok memperbaiki penyesuaian sosial mereka (social adjusment), dan tujuan keduanya untuk membantu kelompok mencapai tujuan-tujuan yang disepakati oleh masyarakat (National Association of Work/NASW).
3. Terapi kelompok adalah suatu metode khusus yang memberikan kesempatan-kesempatan kepada individu-individu dan kelompok-kelompok untuk tumbuh dalam setting-setting fungsional pekerjaan Sosial, rekreasi dan pendidikan (Harleigh B. Tecker).
4. Terapi kelompok memungkinkan beberapa jenis kelompok berfungsi sedemikian rupa, sehingga interaksi kelompok dan kegiatan-kegiatan program memberikan kontribusi pada pertumbuhan individu-individu dalam pencapaian tujuan-tujuan sosial yang diingikan (American Association of Group Worker & Grace L. Coyle).

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa terapi kelomok adalah metode khusus yang memberikan kesempatan-kesempatan kepada individu-individu dan kelompok-kelompok untuk membantu anggota-anggota kelompok memperbaiki penyesuaian sosial mereka (social adjusment) yang bertujuan untuk mempengaruhi keberfungsial sosial, pertumbuhan atau perubahan anggota-anggota kelompok.

2. LALU BAGAIMANAKAH CARA MELAKUKAN TERAPI KELOMPOK TERSEBUT?

Menurut Zastrow (dalam suharto 2007)mendiskusikan tahap-tahap dalam melakuka terapi kelompok seperti berikut.
1. Tahap intake
Tahap ini ditandai dengan adanya pengakuan mengenai masalah spesifik yang mungkin tepat dipecahkan melalui pendekatan kelompok. Kesadaran ini mungkin dihaslkan dari pengungkapan masalah oleh klien sendiri atau berdasarkan penelaahan situasi oleh terapis. Tahap ini disebut juga kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini dirumuskannya persetujuan dan komitmen antara mereka unruk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku.
2. Tahap assessmen dan perencanaan intervensi
Pemimpin kelompok bersama dengan anggoota kelompok mengidentifikasi permasalah, tujuan-tujuan kelompok serta merancang tindakan pemecahan masalah. Kelompok berjalan secara dinamis dan perlu penyesuaian tujuan-tujuan.
3. Tahap penyeleksian anggota
Penyeleksian anggota harus dilakukan pada orang-orang yang paling mungkon mendapatkan manfaat dari struktur kelompok dan keterlibatannya dalam kelompok. Komposisi kelompok (usia, jenis kelamin, status sosial) adalah faktor yang dipertimbangkan dalam tahap ini. Selain itu, ketertarikan individu terhadap kelompok jug diperhatiakn karena anggota yang memiliki perasaan positif akan terlibat dalam berbagai kegiatan kelompok secara teratur dan konsisten.
4. Tahap pengembangan kelompok
Norma-norma, harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan akan muncul pada tahap ini dan akan mempengaruhi serta dipengaruhi oleh aktivitas dan relasi yang berkembang dalam kelompok. Terapis berperan aktif mendorong kelompok mencapai tujuan.
5. Tahap evaluasi dan terminasi
Evaluasi merupakan proses yang berkelanjutan, karena evaluasi tidak selalu dilakukan pada tahap akhir suaru kegiatan. Evaluasi diartikan sebagai pengidentifikasian atau pengukuran terhadap proses dan hasil kegiatan kelompok secara menyeluruh, sedangkan pemantauan proses keberhasilan kelompok yang dilakukan pada setiap fase dapat disebut sebagai monitoring.
Berdasarkan hasil evaluasi dan monitoring tersebut dilakukan terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasarkan pertimbangan dan alasan sebagai berikut:
1.) Tujuan individu maupun kelompok telah tercapai.
2.) Waktu yang ditetapkan (duration of group) telah beakhir.
3.) kelompok gagal mencapai tujuan tujuannya.
4.) keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggotakelompok.

3. KEMUDIAN MANFAAT APA YANG DAPAT DIPEROLEH DARI TERAPI KELOMPOK?

Terapi kelompok memberikan beberapa manfaat kepada anggotanya. Pertama, peserta terai kelompok memiliki kesempatan untuk membicarakan tentang persoalan yang mereka miliki kepada peserta yang lain kemudian mendengarkan komentar dari peserta lain terhadap masalah yang sedang mereka alami. Kedua terapi kelompok juga dapat memberikan gagasan dan sugesti dari anggota lainnya tentang bagaimana carayang lebih baik untuk mengatasi persoalan mereka. Psikologi kelompok juga memungkinkan anggota kelompok untuk menambah pengertian dan penerimaan tetang nilai, tujuan dan untuk belajar tentang sikap dan tingkah laku tertentu. Terapi kelompok membantu individu untuk menggunakan umber inner untuk menghadapi kejadian-kejadian dalam hidup dengan lebih efektif dan mendapatkan kesadaran yang lebih besar, pengertian dan penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain.

4. KASUS-KASUS APA YANG DAPAT DISELESAIKAN DALAM TERAPI KELOMPOK?

Dalam dunia perkembangan anak terapi dipergunakan sebagai kasus-kasus yang berhubungan tentang tugas perkembangan masa kanak-kanak sehingga membentuk anak-anak yang sehat dan terampil membuat keputusan bagi mereka, memperkuat mereka menghadapi masalah, dan belajar strategi memecahkan masalah baru. Sedangkan pada remaja terapi kelompok juga dipergunakan untuk mengatasi kenakalan-kenakalan remaja seperti, malas belajar, tawuran, perilaku agresif antar anggota kelompok, membolos, dan lain sebagainya.
Di dunia industri, terapi kelompok sangat sering digunakan sebagai metode untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami para pegawai seperti kecanduan alkohol, obat-obatan terlarang , rokok, kemalasan bekerja, konflik antar pegawai.

5. CONTOH KASUS YANG DISELESAIKAN DALAM TERAPI KELOMPOK.

Dalam percobaan yang dilakukan oleh Baskoro (2013), terdapat 6 remaja berusia 14-16 tahun yang menunjukan perilaku agresif baik secara fisik maupun verbal yang terdiri dari 3 anak laki-laki dan 3 anak perempuan yang akan diberi terapi kelompok. Terapi kelompok akan dilakukan sebanyak 7 sesi (80 menit setiap sesi), dan terdapat dua sesi dalam satu minggu. Hasil dari terapi yang telah dilaksanakan dalam 7 sesi didapatkan bahwa terapi kelompok menurunkan perilaku agresif pada remaja dalam prosesnya karena beberapa hal sebagai berikut:
a. Peserta terapi kelompok membuat solusi untuk menghadapi suatu situasi permasalahan dan melaksanakannya dalam waktu tuhuj sesi.
b. Peserta dapat mengetahui mengenai respon orang lain ketika mereka mencoba perilaku yang lebih baik,
c. partisipan dapat memantau keadaan dirin¬ya sendiri, sehingga lebih dapat mengendal-ikan diri ketika menghadapi suatu permasala¬han,
d. partisipan memiliki keyakinan bahwa mereka dapat mempertahankan perilaku solu¬si yang telah mereka buat ketika menghadapi situasi permasalahan.

Sumber:
Baskoro, D. S. B.(2013). Model solution focused brief group therapy untuk perilaku agresif remaja. Jurnal sains dan praktik psikologi. Vol 1 (1), 14-25.
Djiwandono, S. E. W. (2005). Konseling dan Terapi dengan Anak dan Orang Tua.Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Mashudi, Farid.(2013).Psikologi Konseling.Jogjakarta:IRCiSoD
Suharto, E. (2007). Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat Tanggungjawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility). Bandung: Refika Aditama.

TULISAN 1 : PSIKOTERAPI (11512643)

1. PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM PSIKOTERAPI
A. PSIKOANALISA
Seperti yang kita ketahui dua tokoh utama dalam psikoanalisa adalah Sigmund Freud yang dikenal sebagai pendiri psikoanalisis dan Carl Gustav Jung yang dikenal dengan teori psikologi analitisya. Psikoanalisis memperkenalkan kita kepda dunia ketidaksadaran (the unconscius) yang ada dibalik kesadaran (the conscius). Teori inilah yang dipergunakan dalam psikoterapi terutama dalam hipnosis untuk menjadi sarana terapeutik untuk agresi dan katarsis. Freud menggambarkan kesadaran adalah seperti sebuah gunung es yang terlihat dipermukaan laut sedangkan ketidaksadaran seperti bagian bagian terbesar gunung es yang terbenam dibawah permukaan laut. Ketidak sadaran berisi tentang isting dan pengalaman traumatis yang direpresi. Kecemasan yang ditimbulkan dari ketidak sadaran berpotensi untuk menimbulkan ganggua mental yang disebut Neurosis. Agar terhindar dari gangguan tersebut setiap orang mengembangkan mekanisme pertahanan diri (defense-mechanism). Ada begitu banyak mekanisme pertahanan diri yang dikemukakan oleh Freud yang semua dilakukan untuk mengatasi kecemasa, contoh;
Proyeksi Karena super ego melarang seseorang mempunyai perasaan atau sikap negatif terhadap orang lain, maka ia membuat seolah-olah orang lain yang mempunyai perasaan atau sikap negatifterhadap dirinya.
Regresi untuk mengindari kegagalan-kegagalan atau ancaman terhadap ego-nya, individu mundur kembali ke taraf perkembangan yang lebih rendah, misalnya menggigit jari atau menjerit.
Represi jika seseorang mengalami suatu peristiwa, tetapi karena pengalaman itu ternyata mengancam atau bertentangan dengan superego, maka pengalaman tersebut ditekan atau direpres masuk kedalam ketidaksadaran dan disimpan agar tidak mengancam superego lagi.
Pembentukan Reaksi reaksi seseorang yang sebaliknya dari yang dikehendaki, agar tidak melanggar ketentuan dari superego.
Displacement jika seseorang tidak dapat melampiaskan perasaan terhadap orang lain kerena hambatan dari super ego,maka ia akan melampiaskan perasaan tersebut kepada pihak ketiga.
Rationalisation dorongan-dorongan yang sebenarnya dilarang oleh super ego, dicarikan dasar rasionalnya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah dapat dibenarkan.
Supression upaya menekan sesuatu yang dianggap membahayakan atau bertentangan dengan super ego ke dalam ketidaksadarannya.
Sublimation dorongan-dorongan yang tidak dibenarkan oleh super ego dialihkan ke dalam bentuk perilaku yang lebih sesuai dengan norma-norma masyarakat.
Compensation untuk menutupi kegagalan dalam suatu bidang kelemahan atau dari bagian atau organ fisiknya, ia membuat prestasi yang lebih tinggi dalam bidang tersebut atau yang berkaitan dengan organ fisiknya. Dengan demikian egonya terhindar dari ejekan atau rasa rendah diri.
Berbeda dengan freud Carl Gustav Jung membagi kesadaran menjadi dua:
1. Ketidaksadaran personal. Sekumpulan perasaan, pikiran, dan persepsi yang berhubungan dengan tema emosional tertentu. Setiap orang memiliki tombol-tombil yang sensitif dalam ketidaksadaran yang mana tombol-tombol tersebut bisa menimbulkan gejolak emosional tersebut.
2. Ketidaksadaran kolektif. Berisi tentang arketope-arketipe, arketipe tampil dalam simbol-simbol yang bisa dipahami lebih baik bila seseorang memiliki pengetahuan tentang mitologi.
Teknik konseling dengan pendekatan psikoanalisa.
1. Asosiasi Bebas tujuan teknik ini adalah untuk mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lampau.
2. Interpretasi atau penafsiran adalah teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi perasaan klien dengan tujuan utama untuk menemukan materi yang tidak disadari. Dengan demikian ego klien dapat mencerna materi tersebut melalui pemahaman baru dan dengan penuh kesadaran.
3. Analisis Mimpi bagi Freud mimpi adalah ekspresi simbolik dari kebutuhan-kebutuhannya yang terdesak.setiap mimpi memiliki isi yang bersifat manifes atau disadari dan juga yang bersifat laten (tersembunyi). Tujuan analisis mimpi adalah untuk mencari isi yang laten atau sesuatu yang ada dibalik isi yang manifes, untuk menemukan sumber-sumber konflik terdesak.
4. Analisis resistensi merupakan suatu dinamika yang tidak disadari untuk mempertahankan kecemasan. Resistensi atau penolakan adalah keengganan klien untuk mengungkapkan materi ketidaksadaran yang mengancam dirinya, yang berarti ada pertahanan diri terhadap kecemasan yang dialaminya.
5. Analisi Transferensi dilakukan dengan mengusahakan agar klien mampu mengembangkan transferensinya guna mengungkap kecemasan-kecemasan yang dialami pada masa kanak-kanaknya. Apabila transferensi ini tidak ditangani dengan baik, maka klien dapat menjadi bersikap menolak terhadap perlakuan terapis dan proses terapi dapat dirasakan sebagai suatu hukuman.

B. PSIKOLOGI BELAJAR
Menurut teori behavioristik, berajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubanhan yang dialami klien dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan carayang baru sebagai hasil dari interaksi stimulus dan respon. Dua pemikiran utama dalam Behaviorisme yaitu pengkondisian klasik yang diperkenalkan oleh Ivan Petrovich Paplov (1849-1936) serta pengkondisian operan dari Burrhus Fedrick Skinner (1904-1990) yang keduanya tersebut dianggap dapat berguna untuk memecahkan masalah-masalah tingkah laku abnormal dari yang sederhana (hysteria, obsesional neurosis, paranoid) sampai pada yang kompleks (seperti phobia, anxiety,dan psikosa) . Pemikiran kedua tokoh ini akan membantu dalam memahami proses induksi (proses pada kliensampai pada tidur hipnotik) dan sugesti posthipnotik (sugesti yang diberikan selama trans).
Teori behavioral menganggap bahwa pada dasarnya manusia bersifat mekanistik dan hidup dalam alam yang deterministik, dengan sedikit peran aktifnya untuk memilih martabatnya. Perilaku manusia adalah hasil respon terhadap lingkungan dengan kontrol yang terbatas dan melalui interaksi ini kemudian berkembang pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Dalam konsep behavioral perilaku manusia merupakan hasil dari proses belajar, sehingga dapat dirubah dengan manipulasi kondisi-kondisi belajar. Dengan demikian teori konseling behavioral hakekatnya merupakan aplikasi prinsip-prinsip dan teknik belajar secara sistematis dalam usahamenyembuhkan gangguan tingkah laku. Asumsinya bahwa gangguan tingkah laku diperoleh melalui hasil belajar yang keliru,dan karenanya harus diubah melalui proses belajar, sehingga lebih sesuai.
Para ahli behaviorisme termasuk Ivan Petrovich Paplov ingin meneliti psikologi secara objektif, yaitu yang dapat diobservasi secara nyata, karena menurut mereka kesadaran tidak dapat diobservasi secara langsung.

C. HUMANISTIK
Psikologi humanistis berorientasi pada keunikan manusia dan pemahaman yang positif serta optimistis tentang kepribadian manusia. Dua tokoh yang utama dalam humanistis adalah Abraham Harold Maslow dan Carl Ransom Rogers.
Abraham maslow terkenal dengan teori hierarki kebutuhannya yang dibuat untuk membatasi pandangan tentang totalitas kepribadian. Hierarki kebutuhan berarti bahwa terpenuhinya kebutuhan yang lebih rendah akan mendorong ke pemenuhan kebutuhan yang lebih tinggi. Mencapai aktualisasi diri bukanlah akhir dari pemenuhan kebutuhan, ketika aktualisasi diri tercapai orang aakan mengalami pengalaman puncak (peak experience). Banyak orang yang menjadikan pengalaman puncak sebagai pengalaman terpenting dan sangat bernilai dalam hidup mereka. Dengan melampaui (yunani:meta) kebutuhan dasar itu, mereka masuk kedalam tataran kebutuhan yang lebih tinggi, orang tidak lagi didorong oleh kebutuhan, tapi terdorong (secara spontan) oleh metakebutuhan yang berisi nilai-nilai universal, seperti cinta, keutamaan, rasa kemanusiaan.
Menurut maslow psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari kedalaman sifat manusia, selain mempelajari yang nampak, juga mempelajari perilaku yang tidak nampak; mempelajari kesadaran maupun ketidak sadaran.
Aspek praktis dari pemikiran Humanistis ditemui dalam terapi yang berpusat pada pribadi (person-centered therapy) yang dikembangkan oleh Carl Rogers, diri yang ada dalam setiap manusia dapat dilihat sebagai segitiga, segi pertama adalah diri yang sesungguhnya (real-self), yaitu aku seperti apa danya, segi kedua adalah diri yang dipersepsikan (perceived-self), yaitu aku yang diinterpretasikan atau dipersepsikan; dan si ketiga adalah diri ideal (ideal self) yaitu diri yang aku cita-citakan. Psikologi humanisttis mengajak kita berfokus pada sisi sehat kepribadian manusia dengan mengembangkan unconditional positive regarddan empati. Baik terapis maupun klien perlu melihat tubuh dengan kacamata sehat. Berpikir secara humanistis, berarti berpikir tentang cara mengalirkan energi ke arah yang baik. Dalam (person-centered therapy) Rogers lebih menekankan pentingnya relasi antar pribadi dengan sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya serta dalam mempermudah perkembangan kepribadiannya. Rogers meyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban sendiri atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapis hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar.

D. KOGNITIF
Orientasi utama Psikologi Kognitif adalah bagaimana seseorang berpikir dan merasa saat ini.. Perilaku adalah efek dari pikiran dan perasaan. Tokoh penting dalam psikologi kognitif adalah Aaron Beck. Menurut beck, banyak gangguan psikologis disebabkan oleh pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan negatif. Selanjutnya, pokiran dan perasaan negatif berkembang menjadi kepercayaan negatif sehingga perlu ditata ulang (direstrukturisasi) dan ditransformasikan menjadi kepercayaan yang positif.
Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur, aktif, direktif dan berjangka waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan dalam kepribadian, misalnya, ansietas atau depresi. Pikiran seseorang memberikan gambaran tentang rangkaian kejadian didalam kesadarannya. Gejala perilaku yang berkelainan atau menyimpang, berhubungan erat dengan isi pikiran. Terapi kognitif dipergunakan untuk mengidentifikasi, memperbaiki prilaku yang malasuai, dan fungsi kognisi yang terhambat, yang mendasari aspek kognitifnya yang ada.
Terapi kognitif biasanya disertai dengan adanya perubahan prilaku (behavioristik) sehingga sering disebut terapi kognitif-behavioristik. kognitif-behavioristik mendasarkan pada penggabungan antara tiga pendekatan terhadap manusia, yakni pendekatan biomedik, intrapsikis dan lingkungan. Dalam melakukan terapi denganteknik ini, banyak mempergunakan prosedur dasar untuk melakukan perubahan perilaku (Behavior modification). Terapi kognitif-behavioristik ini mendasarkan pada tiga dasar pokok yakni:
1. Aktivitas kognitif mempengaruhi perilaku.
2. Aktivitas kognitif dapat dipantau dan diubah-ubah
3. Perubahan perilaku yang dikehendaki dapat dilakukan melalui perubahan kognitif.
Perubahan perilaku terjadi melalui proses yang melibatkan interaksi dari berbicara dalam pikiran (inner speech), struktur kognitif dan perilaku dengan akibat-akibatnya.

2. CONTOH KASUS YANG DAPAT DITANGANI MELALUI PENDEKATAN-PENDEKATAN PSIKOTERAPI.
A. PSIKODINAMIK
Pada masa kanak-kanak Rani sering melihat ibunya dipukuli oleh ayahnya, bahkan perlakuan kasar tersebut tidak jarang juga dialami Rani. Setelah ibunya berpisah dengan ayahnya dia sudah tidak pernah mengalami kekerasan itu lagi. Namun ketika dewasa perilaku Rani mulai semakin jelas, Rani memiliki kemampuan maladaptif sehingga mengganggu hubungannya dengan orang-orang disekitarnya. Rani memiliki kepribadian yang mudah curiga dengan orang lain, pemarah, mudah tersinggung, penyendiri dan kesulitan dalam bergaul.

B. BEHAVIORISTIK
Tono adalah seorang kariawan yang ulet, disiplin, optimis, periang dan mudah bergaul sehingga banyak pencapaian-pencapaian diperusahaan yang dialami Tono. Namun pada suatu waktu karena satu dan lain hal tono mengalami kegagalan pertamanya Tono gagal pada sebuah kesempatan yang sangat besar sehingga rasa kecewa dari kegagalan tersebut tidak hanya dirasakan Tono namun juga dirasakan oleh seisi perusahaan. Satu per satu rekan kerja Tono mulai menunjukan rasa kecewanya di hadapan Tono sehingga membuat Tono menjadi lebih tertekan. Semenjak kejadian itu Tono berubah menjadi pribadi yang murung, tempramen, tidak bersemangat, menjadi rendah diri, kekecewaanyang berkepanjangan. Perilaku tersebut sangat berbeda kepribadin asli Tono.

C. HUMANISTIK
Ani sangat ingin menjadi ballerina yang handal dimasa depan sehingga ia tekun mengikuti sekolah ballet sampai ia menginjak umur 15 tahun namun suatu waktu Ani mengalami kecelakaan yang membuat tulang kakinya mengalami cidera sehigga dokter menyarankan supaya Ani tidak melakukan aktifitas yang berat termasuk juga untuk menari ballet. Semenjak saat itu Ani mengubur dalam-dalam cita-citanya menjadi seorang balerina Profesional dan Ani menjadi merasa tidak berharga karena sudah tidak bisa bermain ballet, sehingga rasa tidak berharga tersebut menggangu kehidupan sehari-hari Ani.

D. KOGNITIF
Rika mengalami phobia terhadap cicak karena ia pernah secara tidak sengaja dijatuhi cicak sehingga masuk kedalam pakaiannya, ditambah ia berpandangan bahwa bentuk cicak hampir menyerupai buaya dengan ukuran yang lebih kecil, semenjak itulah ia memiliki phobia terhadap cicak karena cicak dianggap dapat membahayakan dirinya.

3. PANDANGAN SAYA MENGENAI PENANGANAN KASUS TERSEBUT
A. Psikodinamik
Kasus yang telah disebutkan pada point 2 memang sangat sesuai ditangani dengan terapi psikodinamik, karena pada kasus tersebut klien mengalami pengalaman traumatis yaitu kekerasan pada masa kecilnya yang secara tidak sadar telah direpres oleh otak sehingga kecemasan yang ditimbulkan dari pengalaman traumatik itu ditekan namun tanpa disadari pengalaman traumatis itu juga membentuk kepribadaian maladaptif pada klien tersebut.merepresikan pengalaman-pengalaman ke dalam ketidaksadaran termasuk kedalam mekanisme pertahanan diri yang dimiliki seseorang yang juga merupakan kajian yang diteliti dalam bidang psikodinamika.

B. Behavioristik
Pada dasarnya tono memiliki kepribadian yang cukup baik namun kegagalan yang dihadapinya serta pengaruh lingkungan kantor yang merasa kecewa akan kegagalan yang dibuat Tono membuat Tono mengalami depresi serta rendah diri sehingga seakan-akan kepribadian Tono berubah. Kasus ini sangat cocok ditangani dengan terapi behvioristik karena perilaku yang ditampilkan Tono merupakan suatu hasil respon dari lingkungan serta hasil dari proses belajar. Tono kurang memiliki contoh perilaku adaptif terhadap kegagalan yang dapat dipelajari dari orag lain sehingga ketika Tono sendiri yang mengalami kegagalan dia tidak mampu atau kesulitan beradaptasi dalam situasi tersebut, untuk menangani kasus tersebut dalam terapi behavioristik biasanya ditangani dengan teknik Unitative learning / Social modelling.

C. Humanistik
Dalam Contoh kasus diatas Ani mengalami incongruence dalam dirinya artinya realitas bahwa Ani tidak boleh menari ballet bertentangan dengan realself Ani yang menginginkan menjadi balerina profesional. Dalam terapi Humanistik Terapis akan membimbing Ani untuk dapat menerima dirinya sebagaimana adanya serta memotivasi Ani untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya yang lain sehingga Ani dapat lebih berkembang dan mengaktualisasikan dirinya di bidang yang lain dan dapat meningkatkan rasa harga diri Ani kembali.

D. Kognitif
Kasus yang telah dijabarkan dalam poin 2 menurut saya Klien tersebut dapat ditangani dengan terapi kognitif karena klien memiliki perspektif yang salah mengenai cicak yang dianggap dapat membahayakan. Dalam terapi kognitif perspektif negatif terhadap cicak itulah yang perlu diubah, klien diberi pemahaman baru mengenai cicak bahwa cicak bukanlah binatang yang berbahaya sehingga perlu ditakuti, setelah kognitif klien berubah diharapkan akan disertai dengan perubahan perilaku dari takut cicak menjadi tidak takut cicak.

Daftar Pustaka :
Basuki, A.M. Heru.(2008).Psikologi Umum.Jakarta:Universitas Gunadarma.
Gunarsah, Singgih D.(2007).Konseling dan psikoterapi.Jakarta: Gunung Mulia.
Mashudi, Farid.(2013).Psikologi Konseling.Jogjakarta:IRCiSoD.
La, Kahija. Y.F.(2007). HIPNOTERPI : Prinsip-prinsip Dasar Praktik Psikoterapi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Handout Psikologi Konseling Nurul Qomariyah